Tuesday, December 11, 2012

Seaworld? No.. This Is My World With You

Sakit tenggorokan yang menyiksa ini tidak terpikirkan akan berganti menjadi hari yang menyenangkan. Aku pikir aku akan meringkuk manis di pulau kapuk saja saat subuh tadi kurasakan suhu hangat badanku. Tapi ternyata kamu selalu ada menemani aku. Hmmm, sungguh tidak terbesit sebelumnya kita akan menikmati Seaworld pada hari selasa? Well, aku tahu sekali kamu sudah bersusah melakukan banyak efforts untuk membuatku bahagia. Menjagaku dan menambah warna hariku. Terlebih pada hari ini, kau merubah sakitku menjadi bahagiaku. Dan di sinilah akhirnya cara kita menikmati hari selasa, Seaworld.

Hey Lihat, Ikan Pari itu benar-benar besar melewati kepala atas kita. Dan lihat ikan Hiu itu, mungkin benar katamu bahwa ia terlalu kenyang untuk menjadi predator di aquarium ini atau, ia telah menjadi bodoh dan kehilangan kemampuan berburunya? Ngomong-ngomong kenapa yah, Piranha-piranha itu diam saja dan tak bergerak? Apa memang begitu cara hidup mereka di ekosistem asalnya di perairan Amerika Selatan sana?

Oh ya, Octopus itu sama sekali tidak mau keluar dari persembuyiannya, hanya jari-jarinya saja yang mengintip dari celah-celah kayu. Dan kau baru tahu kalau ikan duyung benaran ada? Ternyata bentuknya sangat berbeda kan dengan gambaran putri duyung yang cantik? Jadi, Ikan Arapaima yang datang dari Amazon dengan ukuran hampir 10 feet itu yang paling kau kagumi? Mereka terlihat menakutkan bagiku.

Hmm, yang paling menarik bagiku hanya ikan-ikan kecil berwarna-warni yang sibuk berlalu-lalang saja. Mereka tampak elok, anggun, indah, tidak mengancam dan menarik perhatian. Tapi tentu saja, bagian terindah adalah bersamamu. This is my world with you. Thanks a lot my dearest, Dave.

Jakarta, 11Dec2012
Syu


Similan

Hari ini Similan Tour. Pagi-pagi saat dijemput dari Hotel Lemon Grass di Patong, group kita memang paling rempong. Walaupun sudah bisa bangun pagi, tetap saja waktunya mepet saat dijemput oleh rombongan tour. Anehnya, saat kita sudah siap pagi-pagi seperti 2 hari lalu, schedule penjemputan kita bergeser hampir 35 menit dari yang seharusnya. Namun, kita memang sangat menyadari kemampuan kita soal bangun pagi. Memalukan.

Similan tour ini agak berbeda dari Phi-phi island maupun James Bond Island tour. Kita disediakan sarapan creakers, teh panas juga kopi di dermaga. Tidak ketinggalan kita dibagikan obat anti mabok, mungkin crew kapal sudah bosan dengan peserta tour yang mabok laut di dalam kapal mereka. Sendal kita dilepas di dermaga dan kita bertelanjang kaki masuk ke dalam kapal. Bahkan aku sempat bingung, kira-kira gampang ga menemukan lagi sendal kita nanti. Ooops, tentu saja aku tidak berpikir mengenai sendal seperti yang terjadi biasanya pada Jumatan.

Bermandikan matahari, mencium bau laut, menyatu dengan angin laut, membuka mata lebar-lebar mengagumi gugusan batu-batu granit dan teluk pantai yang melengkung indah. Sungguh surga benar nyata! Tapi, tiga hari di atas kapal bagi kita yang sehari-hari hanya duduk di kursi kantoran sungguh tidak tertahankan. Dalam arti, panasnya matahari yang dirasakan berhari-hari sedikit bikin sakit kepala dan juga kondisi berada dalam kapal selama berhari-hari juga membuat badan terasa bergoyang-goyang walaupun sudah pulang ke daratan. Namun, berhubung ini adalah paket tour termahal dibanding yang lainnya, seharusnya dinikmati saja bukan? karena tidak setiap hari kita disuguhi pemandangan alam yang indah.

Ada terbesit rasa iri saat melihat semua rombongan kapal beramai-ramai terjun ke dalam laut untuk snorkling. Bahkan kita yang di atas kapal bisa melihat penyu laut dan ikan-ikan cantik berwarna-warni  berseliweran melewati perut mereka yang sedang snorkling. Keindahan ini sungguh rumit untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Jadi, apa saja yang aku lakukan di Similan ?
1) Tidur seharian di atas kapal (entah karena efek obat atau memang hobby tidur)
2) Break jam makan siang, turun ke pantai merasakan pasir putih, tidak ketinggalan foto-foto.
3) Puas melihat biru air laut, mencium bau laut dan kembung makan angin laut.

Sayang sekali 2000 baht hanya untuk tidur di atas kapal. Topik inilah yang dijadikan bahan lucu-lucuan teman-temanku dan diceritakan kembali terus menerus. Hmm, seandainya saja tidak ada masalah dengan telinga kananku, pasti aku akan terjun ke laut melewati sekelompok ikan nemo, atau kupeluk penyu laut sambil berenang, atau menggangu ikan layar kuning yang berlenggok dengan angkuh atau bahkan menikmati coral reefs yang cantik dengan warna terang-benderang menghipnotis mataku. Well, apapun itu liburan ini tetap memliki arti tersendiri. Paling tidak, menjaga pikiranku agar tetap waras hehee.

Phuket, 10Nov2012
Syu

Tuesday, December 4, 2012

Isi Cangkir Syu: Desember di Freiburg

Isi Cangkir Syu: Desember di Freiburg: Hawa dingin menusuk tulang, baju berlapis-lapis ini serasa tak berguna. Aku berjalan memasuki cafe kecil bercat kuning pucat di pinggir kot...

Desember di Freiburg

Hawa dingin menusuk tulang, baju berlapis-lapis ini serasa tak berguna. Aku berjalan memasuki cafe kecil bercat kuning pucat di pinggir kota Freiburg ini. Beberapa pria setengah tua sedang menikmati kopi panas mereka sambil membahas soal badai yang diprediksi datang malam ini. Mrs.Meyer pemilik cafe setengah baya itu menawariku menu dengan ceria, aku tersenyum dan memesan pancake dengan sirup blueberry serta secangkir cappucinno. 
Pemandangan di luar jendela terlihat sibuk. Orang-orang masih tampak berlalu lalang berbelanja untuk Natal. Anak-anak berlari ceria walau dengan baju tebal melapisi tubuh mereka. Wajah-wajah berbinar menantikan Natal yang tinggal hitungan hari sebelah jari. Namun, hati ini jauh dari keceriaan Natal, ada rasa pahit menyemat dalam kalbu. Natal ini aku hanya ingin sendiri, menikmati sendu dan kidung indahnya dalam hening. Dengan harapan rasa pahit bisa terbuai menghilang bersama udara dingin dan badai.
Kumasukkan password di notebook, rangkaian kata sebuah kota di pinggiran Jerman tempat kita bertemu hari itu. Icon email yang belum dibaca berkedip-kedip di layar. Aku menghela nafas berat, hari ini aku hanya ingin menyelesaikan novel yang sudah berbulan-bulan tanpa ide ending di kepalaku.
Aku tidak ingin terganggu dengan kabar apapun atau dari siapapun, terlebih mengenai dirimu. Bisa-bisanya kau menghilang begitu saja di saat aku benar-benar butuh akan kehadiranmu. Email dari Joyce tadi malam sudah cukup membuatku shock. Sebuah undangan. ditujukan ke alamat rumahku di Jakarta. Undangan pernikahanmu di Bali. 
Kepulan asap cappucinno ini menghangatkan wajahku. Teringat hari itu saat kau kebingungan di depan sebuah gereja tua setelah selesai berkeliling mengambil foto. Seandainya aku tidak menghadiiri kebaktian hari itu, pasti kita tidak bertemu atau seandainya aku segera keluar dari gereja dan tidak tinggal lama untuk berdoa hari itu, kita pasti tidak akan bertemu. Terlalu banyak seandainya. Apapun itu, tak ingin kusesali lagi. Setiap penggal mosaic antara kita memiliki banyak makna dan akan kukenang saja bagian termanisnya.

Well, sebaiknya kuganti password di notebook ini bukan lagi nama kota kecil yang penuh kenangan itu dan juga password di dalam hatiku, bukan lagi namamu.

Desember2010
-Syu-


Monday, December 3, 2012

Tentang Desember

Isi Cangkir Syu: Tentang Desember: Tentang Desember, Hujan, angin dan salju selalu bersahabat karib Pohon-pohon cemara banyak menghiasai rumah Poinsettia tampil cantik di ...

Tentang Desember

Tentang Desember,

Hujan, angin dan salju selalu bersahabat karib
Pohon-pohon cemara banyak menghiasai rumah
Poinsettia tampil cantik di pot-pot mungil
Boneka-boneka salju berdiri gagah

Lampu-lampu hadir di setiap sudut jalan
Kaos kaki berwarna-warni digantung dekat perapian
Lilin-lilin menyala hangat dan menawan
Lonceng bergemerincing di depan pintu rumah-rumah


Warna-warna merah banyak mendominasi depstore
Senyum manis anak-anak memakai bandana rusa
Bintang gemerlap memancar dari pucuk pohon Natal
Lalu, Sinterklas datang bawa apa tahun ini?

Jakarta 1Dec2012 
-Syu-



Wednesday, November 28, 2012

Bila Aku Mati Nanti

Isi Cangkir Syu: Bila Aku Mati Nanti: Bila aku mati nanti, Taburlah abuku di atas lautan luas tanpa batas Agar aku menyatu dengan buih-buih lautan Kemudian jiwaku bisa me...