Monday, July 29, 2013

Sad Clown

Sama Sepert Badut penghibur pesta, aku memakai topeng senyum. Walau perih mengingat beberapa nama yang tersusun dalam otak ini. Sungguh entah kapan memori bisa terkikis bersama waktu. Luka yang ditorehkan bersamaan dengan semua nama-nama itu, kau sadari penuh tanpa bisa kau ubah. Peluklah aku wahai sang waktu nyanyikan aku bait pengantar tidur, agar akal sehat kembali menuntunku menggapai senyum. Jangan jadikan aku lelucon seperti badut bertopeng tebal yang hanya menjadi bahan tertawaan di atas panggung. Kembalikan auraku agar senyum tulus menghiasi kembali wajah ini.  
-Aku yg menyalahkan July-

Sunday, July 28, 2013

Snow Flakes

Kau masih ingat gerimis senja waktu itu, saat kita terbuai dalam alunan sebuah lagu lama yang di putar di radio? Kau mengecup lembut puncak kepalaku yang bersandar di bahumu. "Mengapa tetes hujan selalu digambarkan begitu?" Tanyaku. "Karena memang begitu adanya, kau lihat?" Kau menunjuk tetes hujan yang jatuh di kaca jendela mobil. "Lalu kenapa kepingan salju diilustrasikan seperti itu?" Tanyaku lagi sambil menunjuk gambar serpihan butir salju pada monitor. "Karena mereka terlihat seperti bintang dan juga terlihat seperti kristal". Kau menatap mataku dan tersenyum. "Aku ingin melihat salju yang sebenarnya, menyentuh dan merasakan dinginnya di pipiku". Aku menatapmu kembali. "You will". Kemudian kau mengecup mataku dan mendekapku. Lalu kata-katamu dan lirik lagu itu terus terngiang di telingaku hingga saat ini.

Syu 
-May2013-

Menukar Waktu

Perihlah sudah jemari ini menggedor-gedor gerbang masa lalu. Jarum panjang itu bederik tajam menyakitkan gendang telinga. Lalu melepuhlah hati merasakan panasnya amarah. Meneteskan darah di mana-mana. Cukup sudah, tutup dan singkirkan! Aku hanya ingin tertidur dan terlelap. Dan berharap terbangun dan terperangkap dalam mesin waktu. Meronta menggapai jarum panjang dan menghentikannya sedetik. Penjamkan mata, dan berharap waktu berhenti... dan menukarnya.

-July 2013-

Friday, July 26, 2013

Cinta Sedang Pergi

Kata orang cinta selalu mau mendengarkan,
Tapi cinta menghilang entah sedang kemana saat ini
Mungkin dia sedang bermain air di tepi pantai
Atau malah sedang memandang langit menanti hujan turun


Kata orang cinta selalu ada saat dibutuhkan,
Ternyata cinta sedang pergi mengantar duka dan amarah
Dia akan kembali saat hati sudah tenang, begitu bisiknya
Entah saat matahari tenggelam hari ini atau saat terbit esok hari

*)July



Tuesday, June 18, 2013

Pelangi Kembar

Tadi malam aku bermimpi melihat pelangi kembar diantara ladang tulip merah ini. Dalam mimpiku aku berusaha memotretnya tapi sama sekali tidak terlihat hasil fotonya. Seperti kisah musim semi lima tahun yang lalu, pelangi kembar melintas melewati kepala kita sehabis gerimis sore. "Abby, lihat pelanginya tepat diatas kepalamu." Begitu katamu sambil menunjuk warna-warna indah setengah lingkaran itu sambil menggenggam tangan kiriku. Aku tersenyum bergairah. "Kau tau? kata orang, pasangan yang menyaksikan pelangi kembar bersama tidak akan terpisahkan." Kau memadangku sambil tertawa "Baik. Kalau begitu, aku akan menyanderamu selamanya."

Seiring pelangi memudar dan gerimis mulai turun lagi, aroma rumput dan tulip menghantarkan sepasang langkah kaki kita yang berlari kecil berteduh disebuah gubuk diantara rumpun-rumpun tulip yang akan mekar besok pagi. Lalu setelah hari itu, aku sadar kalau aku tetap menjadi sandera di hatimu. Setiap musim semi kau pasti datang kembali ke ladang tulip ini membawa karangan bunga diatas batu nisanku. Kali ini kau datang bersama anak istrimu meletakkan serangkaian tulip putih. Pelangi kembar benar-benar nyata sore ini, hadir menemani kita lagi seperti sore itu, atau yang sebenarnya adalah pelangi kembar hadir menemani keluarga kecilmu.

"Terimakasih Ben, aku terjaga antara sadar dan tidak. Apakah aku masih bermimpi atau aku memang telah berada di awang-awang. Hari ini aku akan melepasmu setelah melihat senyum bayi perempuan cantik dengan rok ivory berenda dalam dipelukan istrimu. Aku yakin kau telah bahagia, kulihat cahaya cinta dimatamu memayungi bayi kecil yang juga bernama Abby. Ternyata akulah yang menyandera dirimu selama ini. Kali ini, aku akan melepasmu dengan tenang. Selamat berbahagia, Ben." 

Dan hujan pun turun membasahi rumpun tulip diantara bias matahari senja. 



-Kenangan Pelangi Kembar-
Jakarta, 14 June 2013
Syu

Tuesday, June 11, 2013

Juni

"Juni..." sekali lagi aku menoleh dan melihat senyum cerahmu. "Hati-hati..." Kau lambaikan tanganmu dalam cahaya matahari senja. Kau tampak berkilau terbias cahaya, terlebih saat kau menggenggeam tangan gadis manis berambut pirang di sisimu itu. Empat musim  aku lewatin sendiri sejak terakhir kali pertemuan kita di sore musim itu. Aku semakin mengerti, semua ini berhubungan dengan namaku. Juni tahun pertama, kita bertemu di kelas fotografi karena sama-sama menyukai alam. Juni tahun berikutnya, kita merayakan persahabatan kita di landscape bebatuan Canyonlands National Park, Utah. Kemudian Juni di tahun kedua, kita bergabung bersama klub pecinta fotografi mengarungi dataran Tibet dan saat itu semua warna hatiku selalu menjadi merah muda setiap kali kau tatap wajahku dan membantuku memasang lensa. Lalu Juni tahun ketiga, kau bilang padaku ada seorang gadis pirang manis yang bersedia menjadi foto modelmu. Saat itu aku tidak habis pikir kenapa kau tiba-tiba merubah acuan objek fotomu. Kau bahkan membatalkan rencana perjalanan kita ke Nepal hanya karena gadis itu. 

Ini adalah Juni kelima, aku masih sering tersenyum mengenangmu, mengenang tawa dan canda yang terisi dalam persahabatan kita selama empat tahun. Masih terbayang jelas Juni terakhir kita bertatap muka, kau mengunjungi liburan musim panasku di peternakan nenekku. Dan kau membawa serta gadis manis berambut pirang itu bersamamu. Sore itu di depan pagar kayu di samping pohon willow, kau mengungkapkan isi hatimu. "Juni, ini dia May yang sering kuceritakan padamu. Kita berencana menikah di akhir musim ini". Aku tersenyum tulus ikut berbahagia untukmu, walaupun terbesit rasa kecewa dan ada sebentuk rasa sakit hadir di ujung hatiku yang tak terungkap. Asal kau tahu saja, aku pernah menyimpan rasa cinta untukmu selama empat kali Juni.


Cerita tentang Juni : Gadis tomboy pecinta fotografi

-Syu-
Jakarta, 11 Juni 2013

Wednesday, May 1, 2013

Bram's Note; "About Sanny"

Sore itu hujan turun begitu saja dengan tiba-tiba. Aku terduduk di teras rumahmu sambil menghindari hempasan hujan yang turun semakin deras. Angin menderu memaksa rumpun-rumpun mawar kecil di dekat jendela bergoyang dengan keras. Bunganya yang masih kuncup menunduk-nunduk diterpa angin. Kak Yarlie yang mempersilahkan aku masuk. Suasana pekarangan rumahmu masih tertata rapi seperti dulu, saat aku masih rajin menemuimu. Pot-pot bunga kamboja jepang dan anggrek bulan milik mamamu masih tetap berbunga indah menyambut kedatanganku kali ini. Senyum wajahmu kembali terbayang dengan jelas di pelupuk mataku walaupun terakhir kali aku melihatmu tiga tahun yang lalu. Brownies keju dan coffee latte original yang disuguhi Kak Yarlie menemaniku menunggu hujan reda. Aku juga heran entah apa yang membawaku menginjakkan kaki kembali di teras ini. Entah ingatan tentang dirimu atau angin yang menuntunku kemari. Sudah seminggu aku pulang ke Bandung dan hari ini ingatan akan dirimu semakin kuat. 

"Sanny akan menikah minggu depan, Bram. Setelah itu ia akan pindah tinggal bersama suaminya di Bali. Jadi, rumah akan semakin sepi tinggal aku dan Ibu saja. Bagaimana kuliahmu? Gelar doktor sebentar lagi dong?" Percakapan Kak Yarlie mengenai dirimu membuatku tersentak dan menanggapinya dengan perasaan sedikit tidak rela. "Wahh selamat untuk Sanny yah kak, aku ikut berbahagia. Dan iya kuliahku hampir selesai bulan depan sidang Thesisnya".
"Maaf nih Bram kalau aku boleh tahu, kamu dan Sanny dulu begitu dekat aku rasa bukan hanya karna kepergianmu ke Jerman saja kan yang bikin kalian bubar?" Kak Yarlie menatapku dengan bola mata penuh selidik. Aku bernafas dalam dan akhirnya kejujuran terdalam hatiku harus kukeluarkan.
"Iyaa dulu aku memang bodoh Kak, sering tidak kusadari perasaan Sanny yang begitu peka. Tanpa sadar aku sering membandingkannya dengan mantan kekasihku yang terdahulu walaupun tanpa maksud buruk. Mungkin dengan perlahan aku menorehkan luka pada Sanny yang akhirnya semakin lebar dan bahkan sampai akhirnya tidak ada kenangan manis tentang kita yang sanggup ia kenang." Sekarang Coffee Latte yang kuminum ini terasa semakin pahit mengingat raut wajahmu saat terakhir kita berpisah.

"Hmm, dulu aku memang sering berpikir memang ada sesuatu diantara kalian. Syukurlah kalau kamu menyadarinya Bram, agar tidak terulang lagi dengan pasanganmu di kemudian hari. Memang manusia perlu waktu untuk menyadari kesalahannya juga meredam luka, yang penting sekarang masing-masing dari kalian memiliki jalan hidup yang baik...." Ucapan Kak Yarlie terpotong saat telefonnya berdering dan Lima menit kemudian ia tampak sangat bersemangat "Hey Bram, mau lihat foto pre-weddding Sanny? Barusan aku terima emailnya nih."

Aku pulang dengan langkah lebar, menghirup nafas dalam sambil menerima hempasan gerimis tipis di wajahku. Kak Yarlie menawariku payung, tapi kutolak dengan alasan sudah lama tidak merasakan gerimis indonesia yang disambutnya dengan tawa halus. Dengan penuh kelegaan aku sudah menyusun list rencana begitu aku menginjakkan kaki kembali ke Jerman. Aku akan mulai menata hidupku dan karirku dengan lebih terarah dan terlebih segera menggapai gelar doktorku. Kemudian aku akan memperlakukan Gilda dengan lebih baik lagi. Gadis Jerman yang manis teman kuliahku yang banyak memberikan perhatian untukku selama tiga tahun ini. 

Bayangan akan foto Sanny dengan gaun putih terlihat sempurna seperti putri-putri dalam cerita dongeng tulisannya jaman kuliah dulu. Raut wajah pasangannya tampak bahagia, memeluknya dari belakang dengan background garis pantai dan langit kemerahan. Aku mendoakan kebahagiaanmu San, semoga bahagia merajut mimpi bersama Dimas. Betulkan, itu kan namanya?

*) Bram's Note : A piece memory of his love story"
*) Tentang Bram: Menyelesaikan Kuliah Master dan Doktor di Jerman

(Author : Syu ming. Jakarta2012)