Sunday, November 10, 2013

Tentang Ketulusan

"Jangan naif", ini kalimat yang harus kupelajari lebih sering lagi kurasa. Memiliki banyak teman dan jaringan membuat kita terhibur, itu benar. Tetapi jelilah matamu untuk melihat siapa yang sedang memakai topeng di hadapanmu dan kau tidak butuh orang-orang seperti itu di sekelilingmu. Hanya teman yang tulus, original dan permanen yang bisa improve kehidupan kita supaya lebih berkualitas, dan orang-orang seperti itulah yang sangat langka. Jadi, jika kau bisa temukan satu atau dua, sungguh beruntunglah dirimu dan kau tidak memerlukan pahlawan bertopeng lainnya. Rawatlah orang-orang tulus yang nyata hadir dalam hidupmu. 

Aku jadi teringat David pernah bilang "Kau memiliki aku, yang lain cukuplah sebagai aksesoris saja. Jangan diambil hati".

Jakarta, 11 Nov 2013
Syu


Friday, August 30, 2013

Halaman tentang kita


Apa kau yakin, bernarkah kita saling mencintai atau hanya karena kita terperangkap pada halaman buku yang sama saja? Saat mereka membaca halaman buku tersebut, maka semua mata akan menyatukan kita dalam sebuah kisah pendek. Saat melihatmu tidak mungkin tak mengindahkan keberadaanku, dan begitu juga sebaliknya. Jadi, benarkah kita adalah satu cerita yang utuh? Kurasa sebaiknya kita review lagi.

Memberi

Konsep mencintai itu sederhana. Mencintai adalah memberi. Memberi warna dalam dunianya. Baik warna terang maupun warna gelap, semua kau berikan dengan hati. Entah memberi warna kuning dengan sapaan ceria saat embun menguap bersama mentari pagi, atau memberi warna hijau saat siang hari memelukmu. Lalu merah jambu saat tersenyum menggengam tangannya, maupun merah hati saat memuji kebaikannya. Kemudian memberi sentuhan oranye bersamaan dengan kehangatan saat menyaksikan matahari terbenam. Maupun magenta saat kau merasa sendu, kecewa dan ingin berteriak kepadanya. Lalu bisa berubah menjadi biru saat amarah mereda dan berganti airmata. Sebab saat engkau memberi, maka engkau akan terus memberi tanpa pamrih. Dan begitu juga saat engkau mencintai, engkau akan terus berjalan walaupun menyeret luka.


It's never exist

I only see thing what is clear to my eyes and will believe it in the way my sight shows me. I also believe that the color of season meant to cross my path, whether it blooms wonderful or it appears awful sometimes. But, somehow when it's gone i will just miss the smell again. And no matter where i go, i will still end up being me. The scenery may change, but what's missing never change and i'll be still the same incomplete person. There's another thing i believe in life, true love never exist. If it does exist, you'll never have to meet me today.


Goodbye August, Hello September...

Monday, July 29, 2013

Sad Clown

Sama Sepert Badut penghibur pesta, aku memakai topeng senyum. Walau perih mengingat beberapa nama yang tersusun dalam otak ini. Sungguh entah kapan memori bisa terkikis bersama waktu. Luka yang ditorehkan bersamaan dengan semua nama-nama itu, kau sadari penuh tanpa bisa kau ubah. Peluklah aku wahai sang waktu nyanyikan aku bait pengantar tidur, agar akal sehat kembali menuntunku menggapai senyum. Jangan jadikan aku lelucon seperti badut bertopeng tebal yang hanya menjadi bahan tertawaan di atas panggung. Kembalikan auraku agar senyum tulus menghiasi kembali wajah ini.  
-Aku yg menyalahkan July-

Sunday, July 28, 2013

Snow Flakes

Kau masih ingat gerimis senja waktu itu, saat kita terbuai dalam alunan sebuah lagu lama yang di putar di radio? Kau mengecup lembut puncak kepalaku yang bersandar di bahumu. "Mengapa tetes hujan selalu digambarkan begitu?" Tanyaku. "Karena memang begitu adanya, kau lihat?" Kau menunjuk tetes hujan yang jatuh di kaca jendela mobil. "Lalu kenapa kepingan salju diilustrasikan seperti itu?" Tanyaku lagi sambil menunjuk gambar serpihan butir salju pada monitor. "Karena mereka terlihat seperti bintang dan juga terlihat seperti kristal". Kau menatap mataku dan tersenyum. "Aku ingin melihat salju yang sebenarnya, menyentuh dan merasakan dinginnya di pipiku". Aku menatapmu kembali. "You will". Kemudian kau mengecup mataku dan mendekapku. Lalu kata-katamu dan lirik lagu itu terus terngiang di telingaku hingga saat ini.

Syu 
-May2013-

Menukar Waktu

Perihlah sudah jemari ini menggedor-gedor gerbang masa lalu. Jarum panjang itu bederik tajam menyakitkan gendang telinga. Lalu melepuhlah hati merasakan panasnya amarah. Meneteskan darah di mana-mana. Cukup sudah, tutup dan singkirkan! Aku hanya ingin tertidur dan terlelap. Dan berharap terbangun dan terperangkap dalam mesin waktu. Meronta menggapai jarum panjang dan menghentikannya sedetik. Penjamkan mata, dan berharap waktu berhenti... dan menukarnya.

-July 2013-