Tuesday, December 4, 2012

Desember di Freiburg

Hawa dingin menusuk tulang, baju berlapis-lapis ini serasa tak berguna. Aku berjalan memasuki cafe kecil bercat kuning pucat di pinggir kota Freiburg ini. Beberapa pria setengah tua sedang menikmati kopi panas mereka sambil membahas soal badai yang diprediksi datang malam ini. Mrs.Meyer pemilik cafe setengah baya itu menawariku menu dengan ceria, aku tersenyum dan memesan pancake dengan sirup blueberry serta secangkir cappucinno. 
Pemandangan di luar jendela terlihat sibuk. Orang-orang masih tampak berlalu lalang berbelanja untuk Natal. Anak-anak berlari ceria walau dengan baju tebal melapisi tubuh mereka. Wajah-wajah berbinar menantikan Natal yang tinggal hitungan hari sebelah jari. Namun, hati ini jauh dari keceriaan Natal, ada rasa pahit menyemat dalam kalbu. Natal ini aku hanya ingin sendiri, menikmati sendu dan kidung indahnya dalam hening. Dengan harapan rasa pahit bisa terbuai menghilang bersama udara dingin dan badai.
Kumasukkan password di notebook, rangkaian kata sebuah kota di pinggiran Jerman tempat kita bertemu hari itu. Icon email yang belum dibaca berkedip-kedip di layar. Aku menghela nafas berat, hari ini aku hanya ingin menyelesaikan novel yang sudah berbulan-bulan tanpa ide ending di kepalaku.
Aku tidak ingin terganggu dengan kabar apapun atau dari siapapun, terlebih mengenai dirimu. Bisa-bisanya kau menghilang begitu saja di saat aku benar-benar butuh akan kehadiranmu. Email dari Joyce tadi malam sudah cukup membuatku shock. Sebuah undangan. ditujukan ke alamat rumahku di Jakarta. Undangan pernikahanmu di Bali. 
Kepulan asap cappucinno ini menghangatkan wajahku. Teringat hari itu saat kau kebingungan di depan sebuah gereja tua setelah selesai berkeliling mengambil foto. Seandainya aku tidak menghadiiri kebaktian hari itu, pasti kita tidak bertemu atau seandainya aku segera keluar dari gereja dan tidak tinggal lama untuk berdoa hari itu, kita pasti tidak akan bertemu. Terlalu banyak seandainya. Apapun itu, tak ingin kusesali lagi. Setiap penggal mosaic antara kita memiliki banyak makna dan akan kukenang saja bagian termanisnya.

Well, sebaiknya kuganti password di notebook ini bukan lagi nama kota kecil yang penuh kenangan itu dan juga password di dalam hatiku, bukan lagi namamu.

Desember2010
-Syu-


5 comments: